Rabu, 29 Agustus 2012

Saya-pun Juga Bingung Judulnya Apa


Seperti pagi  hari biasanya ketika itu adalah jam kerja, saya bangun, mandi dan bergegas untuk bekerja, dan tidak lupa membawa bekal untuk siang harinya. Ya, sebuah rutinitas yang telah dijalani. Tapi lebih kurang sebulan, malas, tidak bersemangat, jengkel telah bercampur menjadi satu rasa yang sulit untuk saya tulis disini. Kali ini saya terbangun dan ternyata jam masih menunjukan pukul 01.00 WIB dini hari, masih ada 6 jam lagi untuk menjalani rutinitas. Tak bisa memejamkan mata, maka saya coba kembali menulis, hitung-hitung ngisi blog yang sudah lama gak update lagi :). Tulisan ini bukan tulisan formal, memikirkan judulnya saja tidak terfikirkan, bukan pula tentang sebuah tulisan kritik kepada para birokrat pemerintah, tapi mungkin akan lebih tepat tentang sebuah keresahan tentang beban pikiran, walaupun saya tidak mau tulisan ini dianggap sebagai tulisan curhat.

Mengutip sebuah tulisan dari sebuah buku karangan Gede Prama yang berjudul Jejak-Jejak Makna dimana didalam halaman persembahan tertulis “kalau saja jarum jam bergerak kebelakang, Aku ingin lahir kembali dari kandunganmu lagi Ibu, Aku ingin engkau membimbing lagi Ayah, Aku ingin menikahimu lagi Istriku, dan Aku inggin menggendongmu lagi Anak-anakku”, atau sebuah bait puisi dari Soe Hok Gie yang mengatakan “Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah berumur tua”. Kedua tulisan tersebut memang berbeda tapi sediikit ber-irama karena jelas kita ini sebagai manusia, hidup, dan menjalani kehidupan, tidak lepas dari permasalahan yang ada disekitar diri kita sendiri,. Dan terkadang semua diawali dari pikiran diri kita sendiri.

Saat saya duduk dibangku Sekolah Dasar,dipikiran sangat begitu ingin untuk duduk dibangku SMP, berlanjut ke-SMA, hingga bangku kuliah, dan bekerja. Kita sendiri tidak menyadari bahwa setiap proses tahapan yang kita lalui mestinya juga diiringi dengan sebuah proses pendewasaan dalam berfikir, bersikap dan dipengaruhi oleh lingkungan. Dan secara tidak langsung sebuah proses pembangunan prisip dan idialisme didalam diri akan tumbuh.

Bingung mau dilanjutin kemana ini tulisan, yang jelas jika saat ini saya ataupun anda adalah manusia dewasa tentunya kita menyadari bahwa setiap bertambah usia seorang umat manusia maka semakin bertambah tanggungjawab yang harus dijalani.  Menyerah pada sebuah kondisi bukanlah suatu prinsip, tapi berfikir secara logis adalah sebuah keharusan, manusia adalah makhluk sosial, yang tidak luput dari walaupun secuil perasaan, dan manusia bukan mesin pekerja yang siap menerima apa adanya.  Kondisi dan tuntutan ekonomi adalah hal yang musti harus diselesaikan tapi bertahan pada sebuah ketidaknyamanan itu bukanlah manusiawi, diasingkan atau hidup dalam kemunafikan. Materi (uang/pendapatan) bukanlah ukuran kebahagiaan tapi yang terpenting berada disekitar orang-orang yang selalu memberikan senyuman adalah kebahagiaan.

Satu paragraf diatas adalah sisi kegelisahan saya saat ini tentang rutinitas yang saya jalani saat ini, bekerja setiap harinya, melalui persimpangan yang sama, dihadapan sebuah monitor tua, dengan kertas-kertas yang sama, dan sebuah tekanan dan perlakuan tidak adil yang saya rasakan. Baru genap satu bulan saya di angkat menjadi karyawan tetap setelah satu tahun, tapi kali ini saya memutuskan untuk keluar, karena saya beranggapan bahwa sebuah hal yang tidak dapat saya terima jika mayoritas dalam satu hari kehidupan hanya dibebani oleh hal-hal ketidaknyamanan, tekanan, dan beban pikiran yang besar. Realistis itu adalah penting, tapi saya percaya manusia hidup didunia, diciptakan oleh Tuhan, dan menjalani kehidupan bukanlah untuk sebuah keresahan karena hidup ini hanya satu kali.